uliah Jalanan: Warung Pak Hamam
Perjalanan mengeliingi kota bandung sudah kami lakoni. Semua itu diluar rencana yang sudah ditentukan dan tidak ditulis hitam di atas putih, tapi mau bagaimana lagi rencana Tuhan itu begitu indah dan banyak hikmah. Kami berjalan karena diperkenankan oleh yang layak logis legal untuk memperkenankan kami berjalan, nikah, hamil, beranak pinak karena penyatuan cinta, bukan melamar dan dilamar. Ketika kami beranjak ingin pulang, perut kami dilanda badai keroncong yang tiba-tiba saja menyala seperti alarm yang sudah di-setup terlebih dahulu. Akhirnya kami harus isi dengan lagu-lagu yg memenuhi pakem keroncong. Beruntung jadwal kereta yang akan mengantarkan kami tiba pukul 01.30 jadi waktu masih tersisa tiga jam. Waktu yang tersisa ini kami pakai dengan bijak untuk mencari wisata kuliner yang kami nilai dapat menghemat uang yang kami miliki. Saat di jalan kami berdua tersenyum kecut mengamati becak yang berada di kota bandung. Becak di bandung ini kami pikir begitu unik yang mengispirasi intelektualitas kontemplatif pada setiap celah kehidupan manusia(catatan:akan kami ceritakan dalam kisah berbeda).
Kembali, hampir setengah putaran mengitari keliling bangunan stasiun kami berhenti disebuah warung makan yang memajang makanannya di etalase gerobak. Segera kami memesan makan. Saat sedang makan ada sebuah peristiwa menarik dari Pak Hamam pemilik warung makan tersebut. Setiap kali menerima uang dari orang yang membeli makanan darinya, Pak Hamam mendistribusikan uang itu ke tiga tempat, sebagian ke laci, sebagian ke dompet, sisanya kaleng bekas tempat roti.
“Selalu begitu Pak?,” saya bertanya, sesudah menikmati makanan beliau bersama suara mendayu kendaraan-kendaraan bermotor.
“Maksud Ujang?”, ia berganti bertanya.
“Uangnya selalu disimpan di tiga tempat itu?”, sambar bacul.
Pak Hamam tertawa.”Ia Jang. Sudah 17 tahun begini. Biar hanya sedikit duit saya, tapi kan bukan semua hak saya.”
“Maksud Pak Hamam?”, sambar bacul yang kritis ini.
“Dari pendapatan yang saya peroleh dari kerja saya terdapat uang yang merupakan milik keluarga saya, milik orang lain, dan milik Tuhan”
Aduh gawat juga Pak Hamam ini,”Maksudnya?”, ganti saya yang bertanya.
“Uang yang masuk dompet itu hak anak-anak dan istri saya, karena menurut Tuhan itu kewajiban utama hidup saya. Uang yang di laci itu untuk zakat, infaq, qurban, dan yang sejenisnya. Sedangkan di kaleng itu untuk nyicil biaya naik haji Insyaallah sekitar dua tahun lagi bisa mencukupi untuk membayar ONH. Mudah-mudahan ongkos naik hajinya tidak terlalu, sehingga saya bisa menjangkaunya.”
Sepontan saya menghampiri beliau. Hampir saya peluk, tapi dalam budaya kami orang kecil, jenis ekspressinya tidak sampai ke tingkat peluk memeluk, seterharu apapun, kecuali yang ekstrem misalnya famili yang disangka meninggal ternyata masih hidup, atau anak yang digondhol Gendruwo balik lagii.
Namun bacul memegang bahunya dan agak diremas, tapi karena emosi bacul bilang belum cukup maka diguncang-guncang tubuhnya. Kemudian hati saya meneriakan “Jazakumullah, masyaallah, wa yushilhu balakum!”, tetapi bibir saya pemalu untuk mengucapkannya. Tuhan memberi “ijazah” kepadanya dan selalu memelihara kebaikan urusan-urusannya.
Kami menjaga diri untuk tidak mendramatisir hal itu. tetapi pasti di dalam diri kami terdapat sesuatu yang kami kagumi sebagaimana kekaguman yang kami temukan pada prinsip, managemen dan disiplin hidup Pak Hamam. Untung dia tidak menyadari keunggulannya atas kami. Bahwa kami tidak mungkin siap mental dan memiliki kebudayaan maupun ekonomi untuk hidup sebagai penjual makanan, sebagaimana ia menjalankannya dengan tenang dan ikhlas. Tetapi dimanapun dari realitas hidup kami, tidak terdapat sikap dan kenyataan yang membuat kami tidak berbohong jika mengucapkan kalimat seperti diucapkannya “Di antara pendapatan saya ini terdapat milik keluarga saya, milik orang lain, dan milik Tuhan.”
Peradaban saya masih peradaban milik saya. Peradaban Pak Hamam sudah lebih maju, lebih rasional, lebih dewasa, lebih bertanggung jawab, lebih mulia, dan tidak pengecut sebagaimana “kapitalisme subyektif posesif’ saya.
Sungguh manusia adalah ahsani taqwim, sebaik-baik cipataan Allah, master-piece. Orang-orang besar bertebaran di muka bumi. Mahluk-mahluk agung menghampar di jalan-jalan, pasar, gang-gang kampung, pelosok-pelosok dusun, dan dimana-manapun. Makanan Pak Hamam, terasa lebih sedap karena kandungan keagungan. Warung khilafatullah.
Itu baru pedagang makanan, belum anggota DPR, itu baru penjual Serabi, belum menteri, dirjen irjen sekjen, Guburenur Bupati Walikota dan Tokoh2 Parpol.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar